Minggu, 10 November 2013

Tentang Marentyas Miftakhul Khoiroh

21 Maret 2012 di Halte Stasiun Universitas Indonesia, dengan lalu lalang mahasiswa dan penjual tisu yang menawarkan dagangannya, disinilah aku pertama kali menatap wajahnya, dialah yang menyapaku terlebih dahulu dan mengajakku ke Kampus Fakultas Ekonomi, dan ternyata jalannya lumayan jauh. Dia nampak seperti gadis berjilbab pada umumnya, namun entah kenapa bisa membuat badanku kaku, bingung sendiri, speechless dan grogi. Untung banget dia itu ramee dan easy going, jadi suasana enggak garing.

Kita memulainya dengan saling jujur dan terbuka tentang diri masing-masing, tentang keluarga dan tentang keadaan saat ini, tentunya disambi makan kacang dan minum teh tarik kesukaanku, saat itu sih dia malu-malu ditawarin makanan apa saja ditolak. Walapun malu-malu, tapi dilihat dari segimanapun sepertinya aku yang lebih pemalu, dia tampak lebih berani untuk memulai pembicaraan, lebih terbuka menyampaikan pendapat, dan lebih cuek sama kondisi sekitarnya, padahal khan kita di Kafe Kampus Ekonomi yang sedang rame-ramenya.

Waktulah yang akhirnya lebih memperkenalkanku kepadanya, hingga suatu waktu karena perjalananku dia mengantar hingga bandara, dan temanku mengabadikan fotonya yang tengah menanti bis pulang dengan diam-diam. Wajahnya, sikapnya, ekspresinya menunjukkan semuanya, dia setia, dia rela berkorban, dia rindu, dia menantiku kembali lagi. Hampir aku meneteskan air mata saat pertama kali melihat foto itu.

Eits, pertama kali ngajak dia belanja di Atrium Senen masih nampak normal, belanja kedua masih belum ada perubahan, tapi yang ketiga dan seterusnya, ampun dah aku yang enggak kuat jalan lagi di ajak keliling muterin pedagang baju. Masih mending kalau belanja buat aku apa titipan buat siapa gtu, kalau belanja buat sendiri sampe pegel badan rasanya. Tapi tetep, nikmatnya makan bersama setelah belanja itu adalah momen yang tidak tergantikan.
Description: https://mail.google.com/mail/images/cleardot.gif
Yah, walaupun belakangan ini ternyata dia itu sering gampang panik, telatan, unplanned, bikin cemas,  tapi itu tidak mengurangi cinta dan keseriusanku. Do’akan aku untuk selalu mampu menepati setiap janjiku kepadanya, janji yang bukan hanya untuk di dunia ini. Cukupkan bagiku wanita yang dari keluarga baik-baik, memiliki lingkungan yang baik, berpengetahuan cukup, dan rela menjadikan aku pemimpin keluarganya. 

Ever after,
Yudha Prasetyawan