21 Maret 2012 di Halte Stasiun Universitas Indonesia,
dengan lalu lalang mahasiswa dan penjual tisu yang menawarkan dagangannya,
disinilah aku pertama kali menatap wajahnya, dialah yang menyapaku terlebih
dahulu dan mengajakku ke Kampus Fakultas Ekonomi, dan ternyata jalannya
lumayan jauh. Dia nampak
seperti gadis berjilbab pada umumnya, namun entah kenapa bisa membuat badanku kaku, bingung sendiri, speechless
dan grogi. Untung banget dia itu ramee dan easy going, jadi suasana enggak
garing.
Kita memulainya dengan saling jujur dan terbuka
tentang diri masing-masing, tentang keluarga dan tentang keadaan saat ini,
tentunya disambi makan kacang dan minum teh tarik kesukaanku, saat itu sih dia
malu-malu ditawarin makanan apa saja ditolak. Walapun malu-malu, tapi dilihat
dari segimanapun sepertinya aku yang lebih pemalu, dia tampak lebih berani
untuk memulai pembicaraan, lebih terbuka menyampaikan pendapat, dan lebih cuek
sama kondisi sekitarnya, padahal khan kita di Kafe Kampus Ekonomi yang sedang rame-ramenya.
Waktulah yang akhirnya lebih memperkenalkanku
kepadanya, hingga suatu waktu karena perjalananku dia mengantar hingga bandara,
dan temanku mengabadikan fotonya yang tengah menanti bis pulang dengan
diam-diam. Wajahnya, sikapnya, ekspresinya menunjukkan semuanya, dia setia, dia
rela berkorban, dia rindu, dia menantiku kembali lagi. Hampir aku meneteskan
air mata saat pertama kali melihat foto itu.
Eits, pertama kali ngajak dia belanja di Atrium Senen
masih nampak normal, belanja kedua masih belum ada perubahan, tapi yang ketiga
dan seterusnya, ampun dah aku yang enggak kuat jalan lagi di ajak keliling
muterin pedagang baju. Masih mending kalau belanja buat aku apa titipan buat
siapa gtu, kalau belanja buat sendiri sampe pegel badan rasanya. Tapi tetep,
nikmatnya makan bersama setelah belanja itu adalah momen yang tidak
tergantikan.
Yah, walaupun belakangan ini ternyata dia itu sering
gampang panik, telatan, unplanned, bikin cemas, tapi itu tidak mengurangi
cinta dan keseriusanku. Do’akan aku untuk selalu mampu menepati setiap janjiku
kepadanya, janji yang bukan hanya untuk di dunia ini. Cukupkan bagiku wanita
yang dari keluarga baik-baik, memiliki lingkungan yang baik, berpengetahuan
cukup, dan rela menjadikan aku pemimpin keluarganya.
Ever after,
Yudha Prasetyawan
Ever after,
Yudha Prasetyawan
