Pertama kali mendengar
namanya dari seorang teman, Mbak Rani, yang ada dibayanganku adalah seorang
yang sudah kebapakan dan sudah berumur (karena Mbak Rani adalah seorang yang
keibuan). Bulan berganti bulan pasca pertama kali mendengar namanya, masih belum
terbayang lagi seperti apa gerangan wajahnya, tidak ada inisiatif searching pada social media pada kala itu --- 2011 akhir, lupa
tepatnya bulan apa.
Komunikasi kami terjalin
berawal dari pesan singkat, yaahh just
Short Message Service, kami mulai berkenalan, bertukar informasi, daann aku
mulai mengaguminya, dia tahu banyak hal, hampir semua yang kubahas dia tahu,
mulai dari berita nasional, materi kuliahku, sampai pada nahwu shorof. Aku sudah mulai
kehilangan kepercayaan diri ketika itu. Aku mulai membajak facebook-nya. dan hanya ada
satu foto yang sangat tidak jelas. Hahahhaha…. Nyaris hopeless……
Satu hal lagi yang
membuatku makin tertarik, salah satu buku favorit yang tertulis dalam biodata facebook-nya adalah Al-Ibris, sebuah kitab terjemahan Al-Quran
yang bahkan tiga tahun aku mempelajarinya tapi belum selesai juga (boro-boro
mau menjadikan buku favorit). Baiklah, dan aku mulai membayangkan dia adalah
pemuda pesantren yang liberal dan tahu banyak hal (beruntung foto profilnya
tidak memakai sarung, sehingga bisa mengurangi kesan salaf-ku padanya :D).
Pertemuan kami yang
pertama di Stasiun UI, merupakan gerbang awal kami memulai komitmen dan celah
bagiku untuk mengetahui bagaimana sesungguhnya pemuda di hadapanku ini ---
Maret 2012. Dia dengan sangat terbuka menjelaskan seluk beluk keluarganya,
kerjaannya, dan berbagai hal tentang dirinya. Oke,
I’ve got the poin, dia adalah orang yang terbuka, tegas, terstruktur, dan
satu lagi, dia sangat resmi saat itu. Once more, Mas Yudha sangat menyayangi
keluarganya more than
everything he ever have. Bahkan aku yang seorang perempuan, tidak lebih
sering darinya mengingat keluarga. Kecintaannya pada keluarga sempat membuatku
iri, tapi aku tahu, dia melakukan yang seharusnya dia lakukan, akulah yang
seharusnya lebih banyak belajar lagi.
Seiring berjalannya waktu,
aku makin mengenalnya dari sudut pandangku sendiri. Kesan pertamaku padanya
tidak salah, dia orang yang baik dan penyayang walaupun ternyata tidak seresmi
pertama kali kami bertemu. Dia orang yang rame, serame gelas dibanting :D.
Loyalitasnya pada sahabat-sahabatnya membuatku tidak bisa mencemburui mereka.
For the last,
Mas Yudha orang yang disiplin dan memegang janji-nya. Salah satu temanku pernah
bilang, kalau menilai lelaki adalah dari ketepatannya pada janji, dan Mas Yudha
melakukan itu, he always keep
his promises kecuali memang
ada hal yang menyebabkan dia harus melanggar janji itu. Sedangkan,
kedisiplinannya kadang membuatku bermasalah. Beberapa kali aku selalu kena
marah karena telat datang saat kami janji bertemu. Yeahh… Aku selalu membuatnya
marah dengan kebiasaanku yang suka molor :D.
Semua hal di atas hanya
sebagian kecil dari sosok Yudha Prasetyawan, banyak kelemahan lain yang ada
pada dirinya, he just an
ordinary people. Tetapi
biarkan kelemahan itu hanya untuk kami, menjadi konsumsi kami dan tantangan
bagi kami untuk menjadi lebih lagi di masa mendatang.
Marent
