Minggu, 10 November 2013

Tentang Yudha Prasetyawan

Pertama kali mendengar namanya dari seorang teman, Mbak Rani, yang ada dibayanganku adalah seorang yang sudah kebapakan dan sudah berumur (karena Mbak Rani adalah seorang yang keibuan). Bulan berganti bulan pasca pertama kali mendengar namanya, masih belum terbayang lagi seperti apa gerangan wajahnya, tidak ada inisiatif searching pada social media pada kala itu --- 2011 akhir, lupa tepatnya bulan apa.


Komunikasi kami terjalin berawal dari pesan singkat,  yaahh just Short Message Service, kami mulai berkenalan, bertukar informasi, daann aku mulai mengaguminya, dia tahu banyak hal, hampir semua yang kubahas dia tahu, mulai dari berita nasional, materi kuliahku, sampai pada nahwu shorof. Aku sudah mulai kehilangan kepercayaan diri ketika itu. Aku mulai membajak facebook-nya. dan hanya ada satu foto yang sangat tidak jelas. Hahahhaha…. Nyaris hopeless……



Satu hal lagi yang membuatku makin tertarik, salah satu buku favorit yang tertulis dalam biodata facebook-nya adalah Al-Ibris, sebuah kitab terjemahan Al-Quran yang bahkan tiga tahun aku mempelajarinya tapi belum selesai juga (boro-boro mau menjadikan buku favorit). Baiklah, dan aku mulai membayangkan dia adalah pemuda pesantren yang liberal dan tahu banyak hal (beruntung foto profilnya tidak memakai sarung, sehingga bisa mengurangi kesan salaf-ku padanya :D).


Pertemuan kami yang pertama di Stasiun UI, merupakan gerbang awal kami memulai komitmen dan celah bagiku untuk mengetahui bagaimana sesungguhnya pemuda di hadapanku ini --- Maret 2012. Dia dengan sangat terbuka menjelaskan seluk beluk keluarganya, kerjaannya, dan berbagai hal tentang dirinya. Oke, I’ve got the poin, dia adalah orang yang terbuka, tegas, terstruktur, dan satu lagi, dia sangat resmi saat itu. Once more, Mas Yudha sangat menyayangi keluarganya more than everything he ever have. Bahkan aku yang seorang perempuan, tidak lebih sering darinya mengingat keluarga. Kecintaannya pada keluarga sempat membuatku iri, tapi aku tahu, dia melakukan yang seharusnya dia lakukan, akulah yang seharusnya lebih banyak belajar lagi.

Seiring berjalannya waktu, aku makin mengenalnya dari sudut pandangku sendiri. Kesan pertamaku padanya tidak salah, dia orang yang baik dan penyayang walaupun ternyata tidak seresmi pertama kali kami bertemu. Dia orang yang rame, serame gelas dibanting :D. Loyalitasnya pada sahabat-sahabatnya membuatku tidak bisa mencemburui mereka.

For the last, Mas Yudha orang yang disiplin dan memegang janji-nya. Salah satu temanku pernah bilang, kalau menilai lelaki adalah dari ketepatannya pada janji, dan Mas Yudha melakukan itu, he always keep his promises kecuali memang ada hal yang menyebabkan dia harus melanggar janji itu. Sedangkan, kedisiplinannya kadang membuatku bermasalah. Beberapa kali aku selalu kena marah karena telat datang saat kami janji bertemu. Yeahh… Aku selalu membuatnya marah dengan kebiasaanku yang suka molor :D.

Semua hal di atas hanya sebagian kecil dari sosok Yudha Prasetyawan, banyak kelemahan lain yang ada pada dirinya, he just an ordinary people. Tetapi biarkan kelemahan itu hanya untuk kami, menjadi konsumsi kami dan tantangan bagi kami untuk menjadi lebih lagi di masa mendatang.


With love,
Marent