Kamis, 28 November 2013

Kisah Cinta Kami

Rabu, 21 Maret 2012 ------- 
Kampus Universitas Indonesia Depok
(By Marentyas M.K)

Halte Stasiun UI adalah saksi pertemuan pertama kami, masih dengan suasana yang saling kikuk dan bingung bersikap. Aku mengajaknya berjalan menelusuri cycle track menuju Fakultas Ekonomi, dan berhenti di KaFE (Kantin FE). Dari sinilah semuanya berawal. Pembicaraan yang berlangsung cukup lama ini akhirnya menghasilkan kesepakatan diantara kami. Yeah… terlalu cepat sebenarnya untuk sebuah komitmen pada pertemuan pertama. Bukan love at the first sight  yang terjadi pada kami -Baik dia maupun aku-.  Kami sama-sama belum saling jatuh hati pada pertemuan pertama kami. Entah apa yang mendorongku menerima ajakannya untuk berkomitmen, mungkin hanya sebuah keinginan untuk memulai hubungan baru dengan orang baru. Aku masih ingat betul, perlu waktu beberapa lama untukku meyakinkan diri bahwa pilihanku tepat.

Pasca itu, komunikasi kami mulai berjalan, walaupun tidak terlalu intensif tapi cukup untuk tetap menjaga komitmen kami sepanjang Selat Sunda masih memisahkan. Klasik sebenarnya klo bercerita soal pacaran jarak jauh. Tetapi inilah yang kami alami. Kita tidak pernah menjalani pacaran jarak dekat :D tetapi harus mencoba memulai dengan LDR. Mencoba menikmati waktu pertemuan yang sangat singkat.

Kamis, 30 Agustus 2012 ------- 
Palembang, Malang, Semarang
(By Yudha Prasetyawan)

Next step dalam hubungan kami adalah perkenalan dengan keluarga. H+7 Idhul Fitri 2012, aku berniat untuk bersilaturahim ke Malang untuk pertama kalinya, ke rumah orangtua-nya. Pukul 04.00 WIB aku memulai perjalanan dari Mess Komperta Pengabuan dan sampai di Bandara SMB II Palembang, pukul 09.00. 

Pukul 14.35 mendarat di Bandara Abdurrahman Saleh Malang. And, asal tau saja, selepas sholat ashar sekitar jam 15.30 kompleks bandara yang tadi cukup ramai, menjadi sangat sepi, tidak ada lagi taxi, ojek ataupun toko yang buka. Oh My God, what should I do? Walaupun akhirnya aku bisa sampai pada pemberhentian taxi, keterkejutanku masih berlanjut. Walau sudah diberitahu bakal turun di tengah hutan, aku turun ditempat yang hanya ada satu tempat yang memiliki lampu yaitu pos ojek, selebihnya tempat gelap dengan pohon-pohon yang besar.

Lima menit kemudian, orang yang aku tunggu akhirnya datang juga, melihatnya menjadikanku lupa dengan perjalanan panjang nan melelahkan tadi. Kita berboncengan sampai ke rumahnya. Sesampainya di sana, ternyata kami hanya berdua, baik Pak Tasrip maupun Bu Endah sedang sholat maghrib di masjid. Manfaatkan waktu berharga untuk mandi dan sholat tanpa rasa canggung. Tidak lama kemudian ketika Bapak dan Ibu-nya pulang dan mengajak untuk makan malam bersama, dilanjut sholat isya’.

Usai rentetan tersebut, akhirnya kami berkumpul di ruang keluarga, disanalah aku memperkenalkan diriku dan menyampaikan tujuanku. Tujuan suci untuk segera meminang putri kesayangannya. Niat tersebut disambut dengan hangat, dan untuk membuktikan keseriusanku, aku pun di minta untuk mendatangkan orang tuaku, karena memang sudah tekadku maka persyaratan itu tidaklah menjadi beban untukku. Selepas jam 21.00 aku melepas penat di serambi masjid hingga subuh menyapa.

Sarapan sudah, mandi sudah, packing sudah saatnya aku meminta pamit pulang ke Semarang, karena aku belum lebaran ke rumah. Ada yang berbeda dengan kepulanganku hari itu, aku menuju ke rumah dengan membawa calon pasangan hidupku. Dan untuk pertama kalinya juga aku memperkenalkan seorang gadis kehadapan orang tuaku sebagai calon pendamping. Betapa haru rasanya, ini perjalanan jarak jauh kami yang pertama. Jombang – Semarang. Kisaran jam 00.30 dinihari, kami baru sampai di rumah dan istirahat. Paginya, tibalah waktu sarapan, ada Pa’e dan Simbok, disinilah secara resmi aku memperkenalkannya dan memohon izin, restu, do’a dan bantuannya untuk menjadikannya sebagai pendampingku. Kamipun diberikan wejangan, petuah dan nasihat yang sedemikian banyak, namun pada intinya beliau memberikan lampu hijau.

Alhamdulillah, lega hati kami mendengarnya, satu tahapan dalam proses panjang kami akhirnya terlewati. Sorenya aku mengantarkannya ke Stasiun Semarang Tawang, menunggu kereta yang menjemputnya pulang ke Jakarta. Sedangkan aku menikmati sisa libur satu mingguku untuk berlebaran di Semarang, mengunjungi saudara dan sahabat sekalian untuk membagi cerita bahagiaku tersebut.

Minggu, 21 April 2013 -----
Desa Pait, Kasembon, Malang
(By Marentyas M.K)

Banyak orang bilang saat seorang gadis menerima pinangan itu adalah saat yang paling mendebarkan dalam hidupnya. Yups.. pernyataan itu berlaku pula untukku. Aku harus menambahkan catatan penting pada tanggal 21 April. Bukan hanya RA. Kartini yang lahir pada tanggal tersebut, tetapi bagian terpenting dari sejarah hidupku tertaut disitu. Keluarganya datang memintaku untuk Mas Yudha. Ada berbagai rasa campur aduk pada saat itu, sedih, bahagia dan entah apa. Sedihku muncul ketika Bapak bilang Anakku dijaluk uwong, rasane koyo ra iso ngomong. Yeaayy… bukan jenis lamaran seperti yang banyak kita lihat di novel-novel romance atau film-film, dimana proses lamaran diakhiri dengan jawaban perempuan, yes, I do. Kali ini diakhiri dengan kesedihan Bapak karena akan melepaskan putrinya untuk orang lain. Tetapi inilah kehidupan, ada saatnya datang dan ada waktunya pergi.
--------------------------------
Setelah beberapa tahapan yang kami lalui, saatnya saya berteriak Yes… I’ll become a young bride. Walaupun terkadang aku sibuk meyakinkan diriku sendiri untuk percaya bahwa in a few days more I’ll be a part of someone’s life. Disaat kami masih bingung menjawab kapan sebenarnya cinta itu datang. Tapi langkah pasti menuju cita-cita besar telah meyakinkan kami untuk membangun mimpi kami bersama di masa depan [MMK]. 

Terkadang aku merasa ini semua terlalu cepat, kadang aku merasa ragu kepada diriku sendiri, apakah aku telah siap dan mampu memimpinnya kelak. Namun, saat mengingatnya dalam do'a semakin meyakinkanku untuk segera mensahkannya menjadi istriku, baik di depan orang tua, negara dan agama. Yah, aku akan segera menambah tanggung jawab sebagai seorang suami dan ayah mungkin dalam jangka dekat. Ini bukanlah sebuah tambahan tanggung jawab yang mudah, bukan juga sebuah beban yang harus ku tanggung sendiri, karena mengingat saat itu disisiku sudah ada seorang bidadari. Jadi, mari kita rengkuh cita-cita besar kita bersama [YP].